Al-Ustadz Abu
Abdillah Abdurrahman Mubarak
Kaum
Yahudi adalah orang-orang kafir yang kebenciannya kepada kaum muslimin sangatlah
besar. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Sungguh
engkau akan dapati orang yang paling keras permusuhannya kepada kalian adalah
orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin.” (Al-Ma`idah: 82)
Mereka
adalah kaum yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka terus berupaya
agar ada di antara kelompok kaum muslimin yang mengikuti mereka. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada
kalian hingga kalian mengikuti agama mereka. ” (Al-Baqarah:
120)
Allah
Subhanahu wa Ta’ala melarang kita berloyalitas dengan mereka. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan
Nasrani menjadi pemimpin (teman dekat kalian); sebagian mereka adalah pemimpin
(teman dekat) bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian menjadikan
mereka menjadi pemimpin (teman dekat), maka sesungguhnya orang itu termasuk
golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang zalim. ” (Al-Ma`idah: 51)
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa
menyelisihi mereka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang
artinya):
“Panjangkanlah
jenggot, selisihilah oleh kalian orang-orang Yahudi. ”
Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pula (yang artinya):
“Shalatlah dengan
memakai sandal kalian. Selisihilah Yahudi, karena mereka tidak shalat memakai
sandal.”
Akan
tetapi sudah merupakan sunnatullah, akan ada orang-orang yang mengikuti mereka.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
“Kalian
akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal,
sehasta demi sehasta. Hingga jika mereka masuk ke lubang dhabb niscaya kalian
akan mengikutinya. ” Kami katakan: “Ya Rasulullah, apakah (yang dimaksud) Yahudi
dan Nasrani?” Beliau berkata: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR. Al-Bukhari
dan Muslim)
Di antara
amalan dan keyakinan Yahudi yang diikuti sebagian muslimin:
1. Ghuluw
Ghuluw artinya
melampaui batas. Adapun dalam syariat, artinya adalah melampaui batas dalam
memuji dan mencela.
Ghuluw terjadi
dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, maupun adat. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
“Katakanlah: ‘Hai ahli kitab, janganlah kalian berbuat
ghuluw (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian’.”
(Al-Ma`idah: 77)
Di antara
bentuk ghuluw kaum Yahudi adalah mengkultuskan dan menyembah manusia. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman tantang perbuatan Yahudi dan
Nasrani:
“Mereka
menjadikan ulama dan ahli ibadah mereka sebagai rabb selain Allah.” (At- Taubah:
31)
Mereka
mengkultuskan ‘Uzair, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala:
“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair adalah anak Allah. ’
Orang-orang Nasrani berkata: ‘Al-Masih (Isa)
adalah anak Allah.’ Itulah ucapan
yang diucapkan mulut-mulut mereka, menyerupai ucapan orang-orang kafir sebelum
mereka.” (At-Taubah: 30)
Kemudian
muncul di kalangan muslimin orang-orang yang ghuluw terhadap Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang shalih. Padahal Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
”Janganlah
kalian mengultuskan aku, sebagaimana orang-orang Nasrani mengultuskan Isa ibnu
Maryam.”
Di
kalangan umat ini ada kelompok Sufi yang mengkultuskan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, mengklaim bahwa beliau mengetahui ilmu ghaib. Bahkan sebagian
mereka menyatakan semua makhluk diciptakan karena Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan tentang hikmah
diciptakannya jin dan manusia:
“Tidaklah
Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz- Dzariyat:
56)'
Demikian
juga kelompok Syi’ah yang mengkultuskan orang-orang yang mereka anggap sebagai
imam mereka. Di antara bentuk pengkultusan mereka adalah meyakini bahwa imam
mereka ma’shum (terjaga dari kesalahan) dan mengetahui perkara
ghaib.
Khomeini
(tokoh Syiah) berkata: “Sesungguhnya termasuk perkara yang penting dalam madzhab
kami, bahwasanya para imam memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh
malaikat muqarrabun (yang dekat) ataupun nabi yang diutus.”
Dalam
kitab sesat mereka Al-Kafi disebutkan: “Bab: Para imam mengetahui apa yang telah
dan akan terjadi, serta tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi
mereka.”
Inilah
ucapan-ucapan kufur yang menunjukkan ghuluw kaum Syi’ah terhadap orang- orang
yang mereka anggap sebagai imam.
2.
Mentahrif Kalamullah
Tahrif maknanya
memalingkan ucapan dari makna yang dzahir kepada makna lain yang tidak
ditunjukkan oleh konteks kalimat, tanpa ada dalil yang
menunjukkannya.
Tahrif ada dua
macam: tahrif lafdzi dan tahrif maknawi.
Tafrif lafdzi ada
tiga macam:
a.
Mengubah harakat, seperti mereka mentahrif firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan Allah
telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (An-Nisa`: 164)
mereka membacanya
dengan me-nashab-kan lafzhul jalalah sehingga dibaca: wakallamallaha sehingga
maknanya Nabi Musa lah yang berbicara kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
b. Menambah satu
huruf, seperti tahrif yang dilakukan ahlul bid’ah terhadap kata: istiwa (naik di
atas) mereka tahrif menjadi istawla (menguasai).
c. Menambah satu
kata, seperti tahrif yang mereka lakukan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
wajaa rabbuka (Rabb-mu datang) menjadi wajaaamru rabbuka (perintah Rabb-mu
datang).
Tahrif maknawi
adalah mengubah makna suatu kata tanpa mengubah harakat atau lafadznya. Sebagai
contoh mereka memaknakan: (tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala) dengan makna
kekuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tahrif adalah
perbuatan orang-orang Yahudi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang
mereka:
“Di antara
orang Yahudi ada yang mentahrif (menyelewengkan makna) firman Allah dari makna
yang benar.” (An-Nisa`: 46)
Di antara bentuk
tahrif Yahudi, ketika mereka diperintah untuk mengucapkan (ampunilah) mereka
malah mengucapkan (gandum). Di kalangan umat ini muncul kelompok-kelompok yang
men-tahrif firman Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mendukung kebid’ahan dan
aqidah mereka yang rusak, seperti Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, dan ahlul
bid’ah lainnya. Mereka melakukan tahrif lafdzi dan maknawi yang telah
diterangkan di atas.
3.
Menjadikan kuburan sebagai masjid
Di antara sebab
dilaknatnya Yahudi dan Nasrani adalah menjadikan kuburan sebagai masjid.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Allah
melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka
sebagai masjid.”
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan umatnya dari perbuatan yang
demikian.
Beliau pernah berkata:
“Ya Allah,
janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang
disembah.”
Namun muncul
orang-orang Sufi dan semisal mereka –seperti Rafidhah dan lainnya– yang
mengagungkan kuburan-kuburan dan menyembahnya. Mereka melakukan haul, thawaf,
dan berbagai macam ritual yang tidak diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam.
Asy-Syaikh
Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Di antara bentuk ghuluw kepada kuburan
dan penghuni kubur adalah mendirikan bangunan di atas kuburan, memberinya
lentera, meletakkan kelambu padanya, menulisi nisannya, mengapur (mengecatnya)
serta bentuk ghuluw lainnya. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam melarang semua perbuatan ini.” (Syarh Masa`il Jahiliyyah, hal.
226)
4.
Berloyalitas kepada musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala
Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman tentang perbuatan Bani Israil (Yahudi):
“Kamu
melihat kebanyakan dari mereka berwala’ (berloyalitas) kepada orang-orang yang
kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka persiapkan bagi diri
mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam
siksaan.” (Al-Ma`idah: 80)
Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan berloyalitas dengan orang kafir. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan
Nasrani sebagai pemimpin (teman dekatmu); sebagian mereka adalah pemimpin (teman
dekat) bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu berwala’
(berloyalitas) kepada mereka (menjadikannya sebagai pemimpin atau teman dekat),
maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
(Al-Ma`idah:51)
Allah
Subhanahu wa Ta’ala melarang kaum muslimin melakukan perbuatan seperti Yahudi
yaitu berloyalitas dan cinta kepada orang-orang kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
“Janganlah
orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin (teman dekat)
dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya
lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari
sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (Ali ‘Imran: 28)
Jelaslah
bahwa memusuhi dan berlepas diri dari orang kafir dan agama mereka adalah wajib.
Prinsip al-wala` wal bara` termasuk kewajiban dalam Islam yang paling
besar.
Namun di umat ini
ada Syi’ah Rafidhah dan kaum Sufi yang sering membuka hubungan dan ber-wala`
dengan orang kafir. Mereka tidak segan-segan berkhianat untuk membantu orang
kafir dalam menghadapi muslimin. Pengkhianatan yang pernah mereka lakukan
merupakan satu di antara sekian banyak sejarah kelam mereka.
Seorang
tokoh Rafidhah bernama Nashir At-Tushi membuat bait-bait syair menyanjung
Al-Mu’tashim, salah seorang pemimpin dari Bani Abbasiyyah. Tetapi ketika
pemimpin Tartar, Hulagu Khan punya kesempatan untuk membunuhnya, ia pun
memberikan isyarat untuk membunuhnya. Pengkhianatan inipun melibatkan seorang
Rafidhah lainnya yang bernama Ibnu Alqami. Dialah yang menyarankan Al-Mu’tashim
untuk mengurangi pasukan sehingga Hulagu leluasa membunuhnya. (‘Aqidah Ahlus
Sunnah wa Mafhumuha, hal. 65)
5.
Sihir
Orang-orang
Yahudi termasuk orang-orang yang menggunakan sihir, bahkan salah seorang mereka
telah menyihir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka telah membuang
apa yang dibawa para rasul, lalu beriman kepada kitab-kitab sihir, sebagaimana
Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan:
“Dan
setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa
(Kitab) yang ada pada mereka, sebagian orang-orang yang diberi Kitab (Taurat)
melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung)-nya, seolah-olah mereka tidak
mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah). Dan mereka mengikuti apa yang dibaca
oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa
Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidaklah kafir (tidak
mengerjakan sihir).
Hanya setan-setanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka
mengajarkan sihir kepada manusia.” (Al-Baqarah: 101-102)
Amalan
Yahudi yang kufur inipun diikuti oleh sebagian orang yang menisbatkan diri
kepada Islam. Sebagian mereka mendalami ilmu sihir dan menjauhkan diri dari ilmu
agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
6. Beriman
kepada sebagian ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengingkari sebagian yang
lain.
Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman menerangkan sebagian sifat
Yahudi:
“Apakah
kalian beriman kepada sebagian kitab dan mengingkari sebagiannya?” (Al- Baqarah:
85)
Mereka
tidak beriman kecuali yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Padahal keimanan
mereka kepada sebagian ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah bermanfaat bagi
mereka jika mendustakan yang lainnya.
Asy-Syaikh
Shalih Fauzan hafizhahullah berkata: “Termasuk orang yang mengingkari sebagian
ayat adalah orang yang menyatakan Al-Qur`an adalah makhluk, baik lafadz dan
maknanya. Atau menyatakan: Lafadznya makhluk, adapun maknanya bukan; seperti
ucapan Asy’ariyah. Ini semua adalah ucapan yang mendustakan Al-Qur`an.
Barangsiapa yang menyatakan Al-Qur`an adalah makhluk, baik lafadz dan maknanya
sebagaimana ucapan Jahmiyah; atau menyatakan bahwa lafadznya makhluk sedangkan
maknanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, inipun kufur. Kecuali jika yang
mengucapkannya adalah seorang muqallid (orang yang taklid) atau muta`awil
(mentakwil) maka dia telah sesat. Karena Al-Qur`an adalah Kalamullah, baik
lafadz dan maknanya. Huruf-huruf dan maknanya, semuanya adalah Kalamullah…”
(Syarh Masa`il Jahiliyyah, hal. 170)
7.
Ta’ashub (fanatik buta)
Di antara sifat
Yahudi adalah ta’ashub kepada madzhab yang batil. Mereka berkata sebagaimana
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Janganlah
kalian percaya kecuali kepada orang yang mengikuti agama kalian.” (Ali ‘Imran:
73)
Dalam ayat
lain:
“Kami
beriman kepada kitab yang diturunkan kepada kami.” (Al-Baqarah:
91)
Yakni
(beriman) kepada kitab yang turun kepada nabi-nabi kami saja.
Padahal kewajiban
mereka adalah beriman kepada apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada
nabi mereka dan nabi yang selain dari mereka. Hakikatnya, mereka pun tidak
beriman kepada apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada nabi mereka. '
Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Mengapa
kalian membunuh nabi-nabi Allah?” (Al-Baqarah: 91)
Yakni,
apakah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada kalian adalah ajaran
membunuh para nabi, seperti yang kalian lakukan?
Amalan
Yahudi inipun diikuti oleh sebagian kaum muslimin. Sebagian mereka fanatik
kepada madzhab atau kelompok tertentu tanpa ada dalil. Bahkan dalam hal yang
menyelisihi dalil Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
8. Hiyal
(tipu muslihat)
Di antara amalan
Yahudi yang tercela adalah melakukan hiyal dalam rangka menolak apa yang dibawa
para rasul serta menyelamatkan kekufuran dan kesesatan mereka. Hal ini mereka
lakukan karena tidak mampu menolak secara terang-terangan, sehingga mereka
melakukan makar secara tersembunyi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang
mereka:
“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah
membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Ali
‘Imran: 54)
Ketika
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah dan menang dalam
perang Badr, orang Yahudi tidak mampu menghalangi manusia dari agama Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun melakukan hiyal dan makar.
Sekelompok mereka berkata: “Masuk Islamlah kalian di awal siang, jika sudah di
akhir siang murtadlah kalian dari Islam. Ucapkanlah oleh kalian: ‘Tidak kami
dapati kebaikan di dalam agama Muhammad’, niscaya manusia mengikuti langkah
kalian karena kalian adalah ahlul kitab. Allah Subhanahu wa Ta’ala membongkar
makar mereka ini dalam firman-Nya:
“Sekelompok ahli kitab (kepada sesamanya) berkata:
‘Perlihatkanlah (seolah-olah) kalian beriman kepada apa yang diturunkan kepada
orang-orang beriman (sahabat- sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah
ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada
kekafiran)’.” (Ali ‘Imran: 72)
Di antara
bentuk hiyal dan makar Yahudi adalah ketika mereka dilarang mengambil ikan di
hari Sabtu. Maka mereka memasang jaring (jala) di hari Jum’at dan mengambilnya
setelah Sabtu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan
tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika
mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan
(yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di
hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka.
Demikianlah kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (Al-A’raf:
163)
Inilah
beberapa aqidah dan amalan kaum Yahudi yang Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan
kepada kita, kami sebutkan agar kita menjauhinya. Hudzaifah radhiyallahu 'anhu
berkata: “Dahulu para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam tentang kebaikan, adapun aku bertanya kepadanya tentang kejelekan karena
khawatir akan menimpaku.”
Seorang
penyair berkata:
عَرَفْتُ الشَّرَّ لاَ لِلشَّرِّ وَلَكِنْ
لِتَوَقِّيْهِ
وَمَنْ لَمْ يَعْرِفِ الْخَيْرَ مِنَ الشَّرِّ وَقَعَ
فِيْهِ
Aku kenal
kejelekan bukan untuk melakukannya, namun untuk menjauhinya
Siapa yang tidak
kenal kebaikan dari kejelekan, tentu akan terjerumus padanya
Sebetulnya masih
banyak kesesatan yang dilakukan sebagian orang yang menisbatkan diri mereka
kepada Islam, seperti ucapan sesat orang-orang Syi’ah bahwa Al-Qur`an telah
diubah. Ini juga ucapan yang pernah dilontarkan kaum Yahudi (lihat kitab Lillah
tsumma Litarikh).
Demikian
juga talbis (mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan) yang banyak dilakukan
ahlul bid’ah, merupakan warisan Yahudi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
“Dan
janganlah kalian campur adukkan yang haq dengan yang batil, dan janganlah kalian
sembunyikan yang haq itu, sedang kalian mengetahuinya.” (Al-Baqarah:
42)
Mudah-mudahan apa
yang kami tulis ini bermanfaat. Dan mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala
memberi taufiq kepada kita untuk menjauhi jalan-jalan kesesatan Yahudi dan orang
kafir lainnya.
Wa akhiru
da’wana anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.
[Dari majalah Asy Syariah
http://asysyariah.com]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar